Cerita Pendek |R.U.D.I

Teriknya matahari tidak akan membuat seorang anak laki-laki berusia sekitar 6 tahun untuk berhenti berjualan kerupuk di sepanjang jalan daerah Mampang. Tepatnya di kawasan lampu merah seberang mall yang cukup terkenal di daerah itu. Rudi namanya. Dengan postur tubuh yang terbilang kurus dan badan yang tidak cukup tinggi untuk anak seusianya, gerak gerik Rudi sangat cekatan menghampiri setiap mobil yang berhenti. Selain itu, dia juga menawarkan dagangannya ke setiap orang yang dia jumpai di jalan.

Pandemi ini membuat banyak orang kehilangan mata pencahariannya. Sebagian orang ada yang merasa pemasukkannya berkurang, dan banyak sekali orang yang harus kehilangan pekerjaannya. Hal ini dirasakan oleh ayah Rudi, seorang pedagang bakso keliling. Sebelum pandemi, banyak sekali orang yang mengidam-idamkan makan bakso di sore hari sekitar jam 4. Bola bakso urat dengan kuah kaldu yang panas-panas sangat memberikan kebahagiaan kepada pekerja kantoran untuk beristirahat sejenak disela-sela pekerjaan. Namun, di masa pandemi ini, banyak sekali orang yang takut untuk keluar rumah, termasuk untuk membeli bakso di luar rumah. Banyaknya virus dan kebersihan merupakan faktor utama orang-orang mengurangi kebiasaan untuk jajan. Sehingga, dagangan bakso ayah Rudi pun tidak laku dan terpaksa harus tutup.

Rudi adalah seorang anak tunggal yang hanya memiliki seorang ayah. Ibu nya sudah meninggal dunia sejak dia dilahirkan. Jadi dia tidak tahu bagaimana wajah Ibunya selain melihat dari pas foto yang sudah agak pudar didompet ayahnya. Dia sangat sedih melihat ayahnya selalu bersedih memandangi gerobak bakso yang sudah 4 bulan tidak berjualan. Rudi pun sudah cukup puas untuk makan bakso 3 kali sehari selama 4 bulan itu.

“Nak, ayah sedih melihat gerobak biru ayah ini tidak berkeliling lagi. Kapan ya korona selesai nak?”

“Sabar saja ayah. Rudi masih belum bosan kok makan bakso.”

Tertawa kecil sang ayah tercampur aduk dengan rasa sedih ketika mendengar kepolosan sang anak yang cukup berbesar hati dengan kondisi keluarga mereka. Tapi, dibalik kepolosan itu, sang ayah tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh Rudi setiap harinya.

***

Aku, cukup panggil saja dengan nama Rudi. Usiaku 6 tahun dan aku tidak bersekolah. Ayahku adalah seorang pedagang bakso keliling kompleks perumahan dekat tempat kami tinggal. Dia termasuk salah satu pedagang bakso terkenal di kompleks, tapi setelah adanya virus corona, ayah tidak bisa berjualan bakso lagi. Pemasukkan keluarga kami pun menipis dan hampir habis. Untuk mendapatkan pemasukkan lagi, aku diam-diam berjualan kerupuk yang aku ambil dari warung sebelah mall. Ibu penjual warung dengan senang hati meminjamkan kerupuk-kerupuknya untuk aku jual dimana pun aku mau. Rahasia ini tersimpan cukup rapi, sehingga ayah tidak tahu. Berjualan kerupuk, mungkin hanya satu-satunya cara untuk membantu ayah berjualan. Untuk menjadi ojek keliling, sudah pasti aku tidak bisa. Selain aku masih kecil, naik sepeda roda dua saja aku belum pernah mencoba sejak lahir. Jadi, dengan melihat banyaknya orang-orang yang suka makan kerupuk ketika makan siang maka aku memutuskan untuk berbicara dengan Ibu warung yang sangat baik soal kerupuk.

Dua plastik kerupuk besar, aku letakan di sepanjang bahu kanan dan kiriku. Aku menyusuri jalan kompleks yang banyak warung makan, dengan harapan orang akan membeli kerupuk yang aku jual sebagai teman nasi dan lauk mereka. Tapi, aku biasanya di usir oleh pemilik warung makan, karena mereka pun menjual kerupuk dan menganggap aku akan mencuri pembeli dari warung makan mereka. Aku berjalan terus menyusuri kompleks perumahan itu. 1 minggu, 2 minggu, hasilnya nihil. Aku bingung bagaimana aku harus membawa kerupuk ini pulang kalau tidak habis, karena ayah pasti sedih melihat aku harus membanting tulang membantu beliau. Sehingga, aku selalu berbohong kepada Ibu warung bahwa kerupuk yang aku bawa jatuh keselokan, padahal aku memakannya sampai habis sebagai pengganti nasi untuk makan siang. Selama 2 minggu, aku berbohong seperti itu dan akhirnya aku tidak dipercaya lagi.

“Ibu rugi nak kalau kerupuknya habis terus tapi gak ada uangnya. Sudahlah kamu ga usah jualan kerupuk lagi, tapi kamu bisa makan disini sama Ibu.”

“Aku masih mau berjualan kerupuk bu. Aku butuh uang untuk ayah.”

“……”

Sang Ibu tidak menjawab pertanyaanku. Dia sibuk mengunyah roti dagangannya sambil mengurus anak perempuannya yang masih berusia 2 tahun. BINGUNG. Ya, bingung itulah yang aku rasakan. Setelah kejadian itu, aku datang ke warung Ibu setiap hari untuk makan. Dan setiap sisa makanan, aku taruh di plastik kresek yang aku bawa pulang untuk ayah. Akhirnya, Ibu warung merasa iba melihat kondisiku dan memperbolehkan aku untuk berjualan kerupuk lagi tapi dengan jumlah lebih sedikit. Rasa terkejut, senang, dan bahagia campur aduk yang aku rasakan. Otomatis aku langsung memeluk Ibu warung yang memiliki postur badan yang cukup gempal.

“Ah apa sih kamu Rudi!” Si Ibu otomatis mendorong badan mungilku. Bukan dengan alasan yang tidak baik tapi karena dia takut aku kehimpit oleh badan besar dia.

“Terimakasih Ibu.” Teriakkanku cukup membuat kaget pak ojek yang sedang mangkal di sekitar warung itu. Alhamdulillah ….. akhirnya aku bisa berjualan kerupuk lagi!!!!!!!!!

***

Hari-hari berikutnya, Rudi berangkat berjualan kerupuk dengan suka cita. Dia membawa 4 bungkus plastik kerupuk setiap berjualan di lampu merah. Kalau tidak laku, Rudi akan berjalan menyusuri jalan mengikuti kemana kangkah kaki membawa. Kadang dia berhenti di sebuah  bengkel motor untuk beristirahat dan memakan bekal yang dia bawa dari rumah, makanan sisa kemarin. Petugas bengkel sering sekali membeli kerupuk yang Rudi jual sampai habis. Rudi senang sekali dan berjalan Kembali ke warung untuk mengambil bungkusan-bungkusan kerupuk berikutnya. Sang Ibu warung sangat berbahagia melihat raut bahagia Rudi. Dia tidak melihat jumlah uang yang Rudi berikan ke dia, namun dia melihat semangat Rudi kembali ke warung dengan riang.

***

Aku menikmati setiap perjalanan berjualan kerupuk. Panas matahari, macetnya jalanan, teriakan orang-orang yang meneriaki lampu merah yang memang seharusnya menyala, omelan si pejalan kaki ke pengendara motor yang melewati trotoar dengan cueknya dan banyak sekali kejadian yang aku  nikmati selama berjalan kaki. Dan aku terhenti di sebuah sekolah SD Internasional di kawasan yang terbilang cukup elit di Jakarta. Tembok putih menjulang tinggi memberikan kesan kokoh yang melindungi para siswa di dalamnya. Aku hanya memandang dan terus memandang, tembok putih itu.

Harapan tidak selalu menjadi harapan

Harapan akan menjadi kenyataan

Kenyataan pasti hadir setelah DOA dan USAHA

Aku tersenyum memandang pagar hitam yang sama kokohnya dengan tembok putih itu. Tersenyum dalam khayalku, dimana aku melangkah masuk dengan tas ransel dipunggung dan tangan memegang setumpuk buku tulis. Tertawa bersama teman-teman. Berbaris beraturan bersama wali kelas.

TIBA-TIBA LONCENG BERBUNYI …. TENG NONG TENG NONG TENG NONG

Photo Doc. @CDC

Aku terkejut diantara lamunanku. Bibirku tetap dalam posisi tersenyum dan aku mencari tempat untuk duduk beristirahat sambil memperhatikan bubaran sekolah. Bungkusan plastik kerupuk masih aku pegang dengan erat, dan aku akan melanjutkan berjualan setelah menikmati bubaran SD ini.

“Adik, jualan kerupuk bawang atau kerupuk udang?”

Aku Kembali terkejut untuk yang kedua kalinya. Tiba-tiba ada seorang anak perempuan berambut pirang, tapi entah campuran negara apa dan apa, mencolek aku dan menyakan jenis kerupuk. Dan aku menjawabnya dengan gagap karena aku pun tidak tahu perbedaan antara kerupuk udang dan kerupuk bawang. Aku hanya menjual kerupuk agar mendapatkan uang untuk ayah.

“Maaf, aku tidak tau ini kerupuk apa kak. Kakak mau beli kerupuk ini?”

“Hih, ga mau ah. Kamu aja gak tahu ini kerupuk apa.”

“Waktu itu aku makan yang putih, enak. Apalagi dicampur dengan nasi hangat dan sambal bawang.”

“Apa itu sambal bawang?”

Aku dan Carol meneruskan pembicaraan yang menyenangkan selama hampir 1 jam sambil menunggu jemputan Carol. Dan kami membuat satu kesepatakan yang sangat membuat kami senang. Setiap pulang sekolah aku akan ajarkan oleh Carol tentang bagaimana berbicara dengan Bahasa Inggris selama 1 jam. Kenapa 1 jam? Karena Carol baru dijemput oleh mommy-nya 1 jam setelah lonceng bubar sekolah berbunyi. Dan imbal baliknya, aku memberikan resep sambal khas Indonesia, termasuk sambal bawang untuk pembantunya Carol.

Dengan langkah tergesa-gesa dan riang, aku berjalan kembali ke warung dengan tujuan menanyakan ke Ibu warung tentang resep membuat sambal khas Indonesia. Hari demi hari raut wajah Rudi semakin bersinar cerah bahagia. Setiap hari Rudi pun bertemu dengan Carol untuk belajar Bahasa Inggris. Setiap hari pun, Rudi bercakap-cakap dengan Ibu warung dengan menggunakan Bahasa Inggris, padahal dia pun tahu si Ibu tidak mengerti apa yang dia ucapkan. Dan setiap hari, Carol selalu membawa bekal makanan Western yang dilengkapi oleh sambal khas Indonesia ala Rudi. Pertemanan mereka berubah menjadi sebuat persahabatan. Rudi dan Carol.

Dan tiba waktunya, Rudi bertemu dengan Ibu Carol sepulang sekolah. Carol sakit dan tidak masuk sekolah. Dia meminta Ibunya untuk bertemu dengan Rudi karena sudah janji bertemu setiap hari untuk belajar bahasa Inggris dan memberikan resep sambal.

“Nak Rudi, Carol demam. Jadi, hari ini dia tidak masuk sekolah. Dia menitipkan buku ini untuk kamu.”

“Buku belajar bahasa Inggris Bu?”

“Iya. Kamu bisa baca kan?”

“Sedikit. Bisanya aku dibacakan oleh Carol Bu. Tapi aku akan belajar dari Youtube dulu ya Bu sebelum aku baca buku ini”.

***

Pertemuan Rudi dan Ibunya Carol tidak berhenti sampai disitu. Setiap hari, setelah Rudi belajar bahasa Inggris dengan Carol, dia melanjutkan belajar membaca dari sang Ibu. Dan pada akhirnya ayahnya pun tahu apa yang anaknya lakukan sehari-hari, yaitu berjualan kerupuk, belajar membaca dan bahasa Inggris. Hal yang menyenangkan setelah itu adalah keluarga Carol tidak berhenti-hentinya memesan bakso ayah Rudi meskipun jenis pesanannya berbeda-beda. Awalnya sang ayah bingung bagaimana membuatnya. Ayah Carol ingin bakso keju, bakso telur ada kejunya, bakso urat, bakso kecil tapi kejunya mengalir keluar, warna kejunya pun mau berubah-ubah dan keinginan-keinginan ajaib lainnya.

Dengan melihat kegigihan dan keuletan Rudi, sang ayah pun dengan giatnya mencari resep setiap hari untuk menyuguhkan menu bakso yang berbeda-beda setiap harinya. Dan pesanan bakso pun bertambah karena teman-teman kantor ayah Carol pun minta dikirimkan setiap hari.

Setiap kejadian pasti ada hikmahnya

Tetap tersenyum ketika melihat awan hitam beserta petir

Karena petir tidak selalu menakutkan

Petir dapat memberikan warna baru disetiap kehidupan

***

Published by nikensmartini

I am just a girl who loves all beauty stuffs and traveling. And I am really addicted to a hot cappuccino.

2 thoughts on “Cerita Pendek |R.U.D.I

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: