Cerita Pendek | Reuni Merubah Cerita

“Siapa bilang reuni bisa membuat hati bahagia karena bertemu dengan teman-teman lama?”

Bagiku, reuni hanyalah sebuah ajang untuk saling pamer harta, karir, pasangan hidup sampai dengan pamer gaya hidup. Menurutku itu tidak penting, malah membuatku geram dan gerah. Aku memang kurang suka di lingkungan seperti itu. Aku lebih suka bertemu dengan teman-teman dekat yang memiliki visi dan gaya hidup yang sama. Tidak ada saling pamer tapi saling menghargai. Dan tentu saja tidak ada obrolan ngalor ngidul yang membuat emosi.

Panggil saja aku Cahyo. Tidak perlu tahu nama panjangku karena orang tuaku pun tidak hafal nama panjangku. Aku bekerja sebagai seorang supir bajaj di wilayah Jakarta Selatan selama 4 tahun belakangan ini. Sebelumnya, aku bekerja sebagai seorang akuntan di perusahaan swasta di Jakarta.  Tapi, perusahaannya bangkrut maka aku pun pun otomatis kehilangan pekerjaan.

Bajaj berwarna biru yang aku gunakan sehari-hari untuk mencari nafkah sudah seperti rumah keduaku. Karena, aku sering menginap di bajaj karena aku harus mengejar setoran harian. Awalnya aku tidak menerima kondisi ini karena aku terbiasa hidup enak dan tidur enak. Tapi, lama kelamaan aku lebih menghargai hidup dalam arti sesungguhnya dan aku menikmatinya sampai detik ini. Bagiku, kebahagiaan bukanlah karir yang super tinggi. Kebahagiaan adalah kenyaman hati di setiap situasi, tanpa ada rasa takut, cemas, khawatir dan rasa lain yang dapat membuat pikiran stress.

***

Minggu lalu aku mendapatkan undangan reuni dari SMP Gemilang. SMP tempat aku belajar lebih dari 20 tahun yang lalu. Di sekolah ini, sebagian besar teman-temanku berasal dari keluarga berkecukupan alias kaya. Dulu aku tergolong seperti itu. Suatu masa dimana aku selalu dibelikan oleh ayahku sepatu baru dengan design esklusif dan tidak ada orang yang dapat menyamai design sepatuku. Suatu masa dimana aku selalu diantar jemput oleh supir kesayangan ayah dan ibuku. Suatu masa yang hanya menjadi kenangan indah untukku di masa kini.

Undangan reuni itu sempat membuat aku dilemma untuk memilih antara datang atau tidak datang. Aku masih trauma. Beberapa bulan yang lalu aku hadir di reuni SMA. Harapan awal adalah dapat mengenang kisah manis waktu SMA bersama sahabat-sahabat. Tapi kenyataannya, aku hanya mendapatkan hinaan dari teman-temanku dan aku keluar dari lokasi 1 jam kemudian.

“Bingung ya?”, tanya Susan. Seorang gadis manis berambut hitam sebahu duduk di depanku sambil menyuguhkan hot cappuccino di tempat dia bekerja. Dialah pacar terakhirku yang bisa menebak dengan jitu apa yang ada di kepalaku tanpa aku bersuara sedikitpun.

“Iya. Kira-kira perlu datang gak ya?”

Feeling kamu bagaimana? Kalau gak yakin, ya gak usah datang”

“Pingin datang sih tapi apa iya aku tidak mendapatkan cemoohan?”

“Ya itu gak bisa dihindari sih. Gak ada diantara teman-teman kamu kan yang jadi tukang bajaj selain kamu?”

“…………………..”

Sunyi. Tidak ada jawaban. Bingung. Kesal. Kecewa.

***

Photo Doc. @crisscerda (Unsplash.com)

Akhirnya, aku memutuskan untuk datang ke reuni SMP itu. Reuni ini diadakan di sebuah café semi outdoor di kawasan Menteng. Café ini cukup terkenal dengan live music dan juga es krimnya. Dulu aku hobi sekali makan es krim di café ini bersama ibu ku dan juga sahabat-sahabatku semasa SMP, Agus, Heru, dan Taufik. Eh iya, kemana ya mereka?

“Cahyo!”

Terdengar suara teriakan yang cukup keras dari dalam café. Ketika aku sedang mencari sumber suara itu, tiba-tiba aku melihat sosok perempuan berkulit sawo matang dengan rambut pendek dijepit asal. Dialah cinta pertamaku dan kita menjalani hubungan selama 3 tahun.

“Hai, apa kabar Kamila”

“Hai Cahyo! Aku baik. Kamu gimana?”

“Baik-baik. Kamu datang sama siapa?”. Pertanyaan ini menurutku hanya pertanyaan basa basi busuk terutama kalau keabisan bahan untuk cerita atau grogi. Tapi kali ini, aku membutuhkan jawaban dari pertanyaan itu.

“Aku datang sama ……”. Celingak celinguk mencari seseorang dari samping kanan dan kirinya. Dan akhirnya munculah dia ….

“… Nah aku datang sama Agus! Inget kan?”

Agus adalah salah satu sahabatku waktu SMP. Malah Agus adalah teman sebangkuku. Sedari SMP memang Agus idola cewek-cewek, mulai dari SD sampai dengan SMA. Badannya tegap tinggi dengan postur yang PAS. Paras wajahnya pun sangat macho dengan tatapan mata yang dalam.  Namun, seganteng-gantengnya Agus, dia sangat tidak percaya diri terutama kalau urusan wanita. Aku adalah orang pertama yang selalu dia curhatin soal cewek dan aku biasanya menuliskan tips untuk mendekati wanita di kertas kecil. Biasanya, dia membawa kertas itu setiap dia pergi kencan dengan anak SD sekolah tetangga, layaknya sebuah jimat.

Dan sekarang Agus berpacaran dengan mantan pacarku, Kamila. Kabarnya, mereka akan segera menikah. Waktu sudah berlalu puluhan tahun yang lalu, semua cerita akan berubah seiring berubahnya cuaca di kota Jakarta ini. Cerita hinaan untuk aku pun datang dari Agus. Dengan tatapan angkuh dan sombong, Agus melihat aku dengan tatapan jijik seakan melihat orang keluar dari selokan. Aku mengulurkan tangan untuk bersalaman dan bersentuhan bahu, layaknya seorang sahabat cowok yang sudah lama sekali tidak bertemu. Uluran tanganku hanya dilirik dan percakapan ini menjadi percakapan yan tidak pernah aku lupakan seumur hidupku.

“Astaga Cahyo, kenapa kamu jadi gembel gini sih?”

“Gembel gimana?”. Jujur, aku bingung karena baju yang aku pakai adalah baju baru hadiah dari Susan khusus untuk reuni ini. Menurut dia, agar aku terlihat keren dan bersih.

“Iya, gembel kayak gak keurus gitu. Kamu pengangguran sekarang?”

“Aku kerja, narik bajaj”

Terdengar suara menggelegar layaknya petir ditengah cuaca terik. Mengagetkan dan tidak akan dilupakan.

“APA? NARIK BAJAJ? Ga salah denger nih? Kamu yang punya bajaj atau jadi abang bajaj-nya?”

Terlihat Kamila menyenggol lengan Agus dan berusaha menariknya untuk pergi dari tempat aku berdiri. Mungkin dia merasa tidak nyaman dengan lecehan yang Agus lontarkan untuk aku.

“Aku jadi pengendara bajaj biru. Lumayan untuk makan sehari-hari, malah aku bisa ngopi di café International setiap hari”. Aku tidak bilang aja kalau pacarku kerja disitu.

Dan tiba-tiba Agus berkata, “Ok. Males aku ngobrol sama kamu. Gak level! Bye!”

Aku hanya bisa mengelus dada, inhale exhale inhale exhale. Kenapa reuni selalu memberikan cerita seru untuk hidupku? Kenapa reuni tidak bisa memberikan rasa nyaman bertemu teman-teman lama?

“Cahyooooooo ….”

Aku terkejut mendengar suara yang cukup keras memanggil namaku. Aku sudah ingin pergi saja dari tempat itu karena malas untuk meladeni orang-orang yang hanya mau pamer dan sombong. Tapi, ketika aku melihat Heru dan Taufik aku langsung menghampiri mereka. Mereka berdua adalah sahabatku sejak SMP bersama dengan Agus. Tapi, Heru dan Taufik masih memiliki sifat yang low profile dan lebih menghargai orang lain dibandingkan dengan Agus.

Kami bertiga ngobrol panjang ngalor ngidul mulai dari topik sekolah, pekerjaan, pacar, istri, main bola, main basket, hobi, fotografi sampai dengan rencana untuk buka warung kelontong bersama-sama. Pembicaraan ini sangat seru dan kami berencana untuk bertemu secara rutin setiap bulan. Hal ini yang saya inginkan disetiap reuni. Bukan hinaan.

***

Pembicaraan seru itu terpotong dengan hadirnya Agus, masih dengan cemoohannya.

“Hai tukang bajaj. Udah lah, pulang saja lah kau. Ga pantas kau ada disini.”

Heru dan Taufik terkejut mendengar kata-kata Agus. Dan aku shock dan trauma ku akan sebuah semakin meninggi dan meluas seperti tembok Berlin. Aku hanya bisa diam dengan tatapan dingin ke Agus. Ingin rasanya aku menampar dia tapi aku pikir hal itu hanya dilakukan oleh orang-orang seperti Agus yang tidak memiliki otak yang cukup pintar.

Aku memutuskan untuk pulang setelah berbasa basi dengan beberapa teman-teman SMP ku. Suara latar masih terdengar suara Agus berkumandang seperti layaknya pemimpin upacara 17 Agustus. Dan aku pun tidak meneruskan pembahasan bisnis dengan Heru dan Taufik. Mood sudah berubah menjadi abu-abu.

***

Setiap hari aku hanya merenung di bajaj biru andalanku. Apa iya aku sehina itu? Profesi aku halal kok. Dengan pekerjaan ini, aku tidak menyakiti siapa pun di dunia ini. Tapi kenapa aku terlihat selalu salah setiap aku cerita tentang pekerjaanku.

***

Kota besar memang selalu memberikan cerita tentang hidup. Hidup yang keras bukan hanya dalam hal untuk mencari nafkah. Namun, hidup yang challenging terutama dalam menerima gaya hidup yang berbeda-beda. Kadang, orang yang memiliki gaya hidup yang menurutnya “keren”, tidak dapat menerima gaya hidup yang berbeda. Itulah yang dikatakan, challenging.

Sejak kejadian reuni SMP lalu, Cahyo menjadi seorang yang pemurung dan demotivasi dalam menjalankan kehidupannya. Rasa benci dengan bajaj biru pun muncul dan makin lama makin dalam. Tapi sesungguhnya itu bukan rasa benci tapi rasa sedih dengan kenyataan yang harus dia terima. Susan pun merasa kecewa dengan sifat Cahyo belakangan ini. Menurut dia, sifat itu adalah sifat orang yang tidak bisa bertahan hidup di kota metropolitan. Dan yang makin membuat Susan kecewa adalah keputusan Cahyo untuk menjual bajaj nya dan pindah ke Lampung. Menurut Cahyo, dia dapat menjalankan usahanya di Lampung dari hasil jualan bajaj. Cahyo pun pergi ke Lampung dan cerita tentang Cahyo pun hilang ….

***

Photo Doc. @bluvisnu (Unsplash.com)

Reuni dapat memberikan cerita baru, dapat pula merubah cerita lama. Setelah 2 tahun berlalu, reuni SMP Gemilang pun hadir kembali. Kali ini, reuni diadakan di sebuah panti asuhan bersama dengan anak-anak yatim piatu. Setiap undangan diwajibkan untuk membawa makanan, atau biasa disebut dengan konsep pot luck. Konsep yang berbeda dengan reuni-reuni sebelumnya, membuat para undangan super semangat malah ada yang membawa lebih dari 5 macam lauk plus goodie bag. Yah mungkin sekalian promosi. Tidak ada yang tahu siapa yang mengadakan reuni ini. Tertulis anonymous di bagian tanda tangan undangan. Tidak ada yang menanyakan siapakan anonymous itu. Setiap undangan hanya berpikir bahwa yang mengundang adalah pihak sekolah. Jadi, mereka merespon undangan itu dengan semangat dan sebagian orang sudah siap-siap melontarkan kata-kata sombongnya.

Setiap undangan datang dengan gembira. Alunan cerita terdengar dari setiap alumni SMP Gemilang, mulai dari cerita yang jelas sampai cerita yang tidak jelas. Suasana bahagia dirasakan oleh semua orang yang ada di acara reuni itu, termasuk anak – anak yatim piatu. Terlihat, Agus, Taufik dan Heru datang bersama dengan teman-teman mereka yang lain. Mereka sibuk menggotong panci besar yang diduga adalah bakso urat yang terkenal enak. Bakso itu adalah bisnis Taufik dan Heru, dimana harusnya bisnis itu dijalankan bertiga dengan Cahyo.

Dimanakah Cahyo?

Tidak lama terlihat seorang laki-laki turun dari sebuah mobil bersama dengan seorang wanita manis. Pasangan ini mengumbar senyum yang tulus menuju panti asuhan dengan membawa nasi kotak. Dengan langkah yang sigap, mereka memasuki area reuni dan tidak disangka-sangka sang pria langsung membuka acara reuni tersebut.

“Assalamualaikum, selamat siang teman-teman semua. Terimakasih sudah hadir acara reuni SMP Gemilang hari ini. Reuni ini memang berbeda dari tema reuni-reuni sebelumnya dan semoga reuni ini memberikan cerita untuk kalian semua. Perkenalkan kembali, nama saya Cahyo Gemilang Abadi. Panggil saja saya Cahyo anak Bapak Gemilang yang mendirikan SMP Gemilang ini. Perkenalkan, istri saya Kamila yang juga alumni sini. Silahkan menikmati ajang silahturahmi ini.”

Senyum dan hanya senyum. Itulah hal yang dapat di lakukan oleh Cahyo sambil menggenggam erat tangan Kamila, cinta pertamanya yang kini menjadi istri dan ibu dari seorang anak mereka.

Tidak semua cerita harus diutarakan.

Rasa akan timbul dengan sendirinya.

Biarlah rasa merangkai sebuah cerita indah selayaknya burung terbang menikmati segarnya udara dan hembusan angin.

***

Published by nikensmartini

I am just a girl who loves all beauty stuffs and traveling. And I am really addicted to a hot cappuccino.

One thought on “Cerita Pendek | Reuni Merubah Cerita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: